Perubahan Iklim dan Karbon Biru / Climate Change and Blue Carbon

 

Webinar | Selasa, 17 Juni 2020

Hari / tanggal / waktu : Rabu, 17 Juni 2020, 20.00 - 21.00 WIB (8pm GMT+7 / Jakarta Time)
Day / date / time : Wednesday, June 17, 2020, 6am PDT U.S
This webinar is in Indonesian

IMG-20200526-WA0016

Ringkasan webinar / summary of webinar :

Ekosistem karbon biru sekarang ini sedang menjadi ikon atau trending topic khususnya bagi para pecinta lingkungan. Perubahan iklim dan ekosistem biru merupakan dua frasa atau istilah yang sudah sering disebutkan di seminar-seminar lingkungan baik di kalangan akademisi maupun penggiat lingkungan. Dari dua istilah ini banyak sekali istilah-istilah baru yang dimunculkan oleh para akademisi, yang awalnya berasal dari Bahasa Inggris. Misalnya: gas rumah kaca (Green House Gases), stok karbon (Carbon Stock), carbon sink, carbon sources, carbon sequestration, carbon trading, MRV, karbon biru (blue carbon), dst. Bagi yang terbiasa bergelut dengan bidang ini mungkin akan dengan mudah menangkap maksud dan pengertian istilah-istilah tersebut. Sementara bagi yang lain, istilah-istilah tersebut terasa asing dan sulit dimengerti apalagi diterapkan. Istilah-istilah di seputar Perubahan Iklim dan Ekosistem Karbon Biru adalah hal yang abstrak, tidak seperti membicarakan sampah plastik atau penanaman mangrove yang barangnya dapat terlihat langsung. Aksi-aksi nyata terkait permasalahan sampah dan rehabilitasi mangrove dapat segera dilakukan dan langsung dirasakan. Sehingga memahami istilah-istilah ini perlu pendekatan yang mudah dan dapat dilihat/dirasakan. Sehingga para pecinta lingkungan dapat juga turut serta dalam memanfaatkan momen diangkatnya Ekosistem Karbon Biru ini untuk mengangkat nilai penting ekosistem ini dan meningkatkan manfaatnya bagi masyarakat banyak. Nah, agar kita semua mendapatkan pemahaman tersebut, pembicara akan mencoba membuat paparan sederhana dalam membantu memahami istilah-istilah di seputar perubahan iklim dan ekosistem karbon biru.

(In English)

Blue carbon ecosystem is currently becoming an icon or trending topic, especially for environmentalists. Climate change and blue carbon ecosystems are two phrases or terms that have often been mentioned at environmental seminars both among academics and environmentalists. From these two terms, there are many new terms that have been raised by academics, who originally came from English. For example: greenhouse gases (Green House Gases), carbon stocks, carbon sinks, carbon sources, carbon sequestration, carbon trading, MRV, blue carbon, etc. For those who are accustomed to wrestling with this field, it might be easy to grasp the meaning and understanding of these terms. As for others, the terms are unfamiliar and difficult to understand let alone apply. Terms around Climate Change and Blue Carbon Ecosystems are abstract, not like talking about plastic waste or planting mangroves whose goods can be seen directly. Real actions related to waste and mangrove rehabilitation can be immediately and immediately felt. So understanding these terms requires an easy approach and can be seen / felt. So that environmentalists can also take part in utilizing the moment of the appointment of this Blue Carbon Ecosystem to raise the importance of this ecosystem and increase its benefits for the community at large. Now, so that we all get that understanding, the speaker will try to make a simple presentation in helping to understand the terms around climate change and blue carbon ecosystems.

Setelah mendaftar, Anda akan menerima email dari Zoom; Simpan itu.

Dr. Yaya Ihya Ulumuddin, M.Si.

Dr. Yaya Ihya Ulumuddin, M.Si.

Peneliti Ekologi Vegetasi Laut - Pusat Penelitian Oseanografi LIPI

Yaya Ihya Ulumuddin adalah peneliti junior di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, bergabung di institusi penelitian pemerintah ini sejak tahun 2008. Berawal dari studi S1 di Departemen Biologi ITB (saat ini SITH ITB), Yaya mulai menekuni dunia penelitian, khususnya yang terkait hutan dan konservasi. Dia memulai kegiatan penelitiannya di hutan Gunung Papandayan tentang karbon stok hutan di tahun 2003-2004. Inilah awal mula dia mendalami hal-hal yang terkait dengan hutan dan perubahan iklim. Selepas lulus, dia sempat berkiprah sebagai Guru Biologi SMA di Tangerang Selatan, namun tampaknya passion-nya bukan sebagai pendidik. Kemudian Yaya kembali ke almamaternya di tahun 2006 untuk bergelut lagi dengan dunia akademis,menempuh jenjang S2 di bidang Pengelolaan Sumberdaya Hayati dan Lingkungan Hidup Tropika (saat ini: Biomanajemen). Dia mendapatkan beasiswa dari almameternya untuk studinya tersebut. Hingga menjelang kelulusannya di tahun 2008, Yaya bergabung dengan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Di LIPI, dia menekuni bidang penelitian mangrove; karbon stok, pemetaan, ekologi lansekap adalah di antara topik-topik yang pernah dipublikasikannya (Lihat Google Scholar). Di awal tahun 2015, Yaya mendapatkan kesempatan untuk menajamkan skill dan pengetahuan sains-nya di Australian National University, khususnya menekuni emisi gas metana (salah satu gas rumah kaca) dari ekosistem mangrove. Baru tahun lalu (2019), dia kembali aktif di LIPI dan langsung terlibat di kegiatan pemerintah seperti Pemetaan Mangrove Nasional di bawah KLHK sebagai wali data one map mangrove; serta bergabung di Yayasan Wahana Mangrove Indonesia (WAHMI), sebuah LSM nasional yang fokus pada konservasi mangrove. Jadi, bagi peneliti junior ini, dunia akademis dan penelitian sudah menjadi bagian perjalanan terbesar di dalam dunia karirnya. 



Registrasi

 

Ocean Learning Labs

Ocean Learning Labs adalah komponen pendidikan dari SOA's Ocean Leadership Program, yang terdiri dari webinar topikal dengan para pemimpin terkemuka dan sumber daya daring yang terkemuka.

Empat pilar topikal Ocean Learning Labs adalah:

  • Literasi Kelautan
  • Advokasi Laut
  • Kepemimpinan yang Sadar
  • Pengembangan profesional